Ciri-ciri Aliran Realisme-Sosialis yang terdapat dalam Novel Sekali Peristiwa di Banten Selatan karya Pramoedya Ananta Toer

oleh Dheka Dwi Agusti N.

BAB 1

PENDAHULUAN

1 Latar Belakang

Dalam dunia kesusatraan ada banyak gerakan dan aliran yang berkembang di dalamnya. Baik sebagai hasil dari saripati yang diperas dari karakteristik karya yang berkembang maupun sebagai kararkter yang sengaja dimunculkan dalam sebuah karya sastra sebagai pengokoh keberadaan sebuah gerakan atau aliran kesusatraan tertentu.

Secara sederhana aliran besar yang terdapat dalam kesusastraan dunia adalah romantisisme, realisme, modernisme, dan pascamodernisme. Sementara gerakan-gerakan yang dianggap sebagai aliran kecil yang memengaruhi aliran besar di atas adalah klasisisme, neoklasisisme, praromantisme, ghotik, dadaisme, naturalisme, realisme-sosialis, utilitarian, pascaromantisisme, art for art’s sake, simbolisme, impresionisme, dekaden, absurdisme, dan eksistensialisme.

Setiap gerakan maupun aliran memiliki karakteristik yang khas yang sedikit banyak menampakkan kondisi zaman di mana aliran tersebut berkembang. Aliran yang dinobatkan berasal dari kawasan Eropa dan Inggris tersebut tentunya mengalami migrasi. Mengalir dan berkembang ke penjuru dunia, termasuk Indonesia.

Pada setiap negeri yang disinggahi oleh perkembangan aliran itu tentunya memiliki dan memunculkan karakteristik yang lebih khas lagi, sesuai dengan kondisi negeri di mana aliran tersebut berkembang. Realisme-sosialis yang berkembang di Indonesia salah satu contohnya.

Realisme-soialis yang berkembang di Indonesia selama ini terbungkus Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat), dan selama ini pula kerap menjadi bahan perbincangan yang tak ada habisnya. Aliran sastra yang menginduk pada mazhab realism ini pada taraf mula di Indonesia karyanya kerap mendapatkan ejekan, hinaan dan lecehan dari golongan-golongan dan klas borjuis sebagai karya-karya yang tidak memenuhi ketentuan-ketentuan seni dan sastra.

Jauh lebih menyedihkan lagi, realisme-sosialis kerap dianggap sebagai ideologi jahat. Relisme-sosialis adalah ideologi Lekra, smentara Lekra sendiri adalah organisasi seniman yang berafiliasi dengan PKI (Partai Komunis Indonesia), dan PKI adalah partai politik yang sosoknya selalu diidentikkan jahat yang tak boleh ada di bumi Indonesia.

Ciri-ciri atau karakteristik aliran realism-sosialis ini dapat digali dari karya sastra genre apapun, tetapi yang paling kentara adalah novel. Di Indonesia, novel-novel karya Pramoedya Ananta Toer kerap diklasifikasikan sebagai novel sejarah. Hal ini sekaligus menunjukkan bahwa dalam karya-karya Pram sedikit banyak memuat cirri realism-sosialis, sebab novel sejarah merupakan bentuk konkret karya sastra beraliran realism-sosialis.

2 Batasan dan Rumusan Masalah

Pembahasan dalam makalah ini dibatasi pada aliran realisme khususnya realisme-sosialis, dan dalam media karya sastra bergenre novel. Novel yang akan dianalisis adalah karya Pramoedya Ananta Toer yang berjudul Sekali Peristiwa di Banten Selatan.

Berdasarkan pembatasan masalah di atas, maka rumusan masalah dalam makalah ini yaitu: Bagaimanakah ciri-ciri aliran realism-sosialis yang terdapat dalam novel Sekali Peristiwa di Banten Selatan karya Pramoedya Ananta Toer?

3 Tujuan Penulisan

Tujuan penulisan makalah ini yaitu untuk mengetahui dan mendeskripsikan ciri-ciri aliran realisme-sosialis yang terdapat dalam karya sastra Indonesia bergenre novel yang berjudul Sekali Peristiwa di Banten Selatan karya Pramoedya Ananta Toer.

4 Kerangka Teori

4. 1 Aliran dalam Kesusasteraan

Kata “aliran” berasal dari kata stroming (bahasa Belanda) yang mulai muncul di Indonesia pada zaman Pujangga Baru. Kata itu bermakna “ keyakinan yang dianut golongan-golongan pengarang yang sepaham, ditimbulkan karena menentang paham-paham lama (Hadimadja, 1972:9). Dalam bahasa Inggris, terdapat dua kata yang maknanya sangat berkaitan dengan aliran, yaitu periods, age, school, generation dan movements.

Secara sederhana gerakan dan aliran yang terdapat dalam kesusastraan sebagai berikut:

Gerakan-gerakan

Aliran atau mazhab

1

Klasisisme

2

Neoklasisisme

3

Praromantisisme-ghotik

romantisisme

1

dadaisme

realisme

1

naturalisme

2

Realisme-sosialis, Lucaks

3

utilitarian

4

Pascaromantisisme, art for art’s sake

5

Simbolisme, impresionisme, dekaden

modernisme

1

Eksistensialisme

2

absurdisme

pascamodernisme

Bagan 1. Aliran atau Mazhab Sastra

4. 2 Aliran Realisme

Pada umumnya realisme dilihat sebagai reaksi terhadap aliran romantik. Realisme berusaha menggambarkan hidup dengan sejujur-jujurnya tanpa prasangka dan tanpa usaha memperindahnya. Aliran ini didorong oleh semangat zaman yang mementingkan kegiatan yang rasional dan kemajuan ilmu pengetahuan pada abad ke-19.

Abad ke-19 adalah abad penuh perubahan dalam sejarah peradaban Barat. Perubahan itu mencakup pertumbuhan 1) nasionalisme yang sangat kuat, 2) kelas menengah, dan 3) aspirasi atau slogan kebebasan. Pada abad ke-19 Inggris merajai dunia. Britania memerintah serta menguasai samudera dan dunia. Hal itu disebabkan adanya revolusi industri dan penemuan Charles Darwin dalam khazanah ilmu pengetahuan dan teorinya, yaitu teori evolusi.

Revolusi industri memacu kemajuan ekonomi, sosial, dan teknologi. Kemajuan-kemajuan di bidang itu mengokohkan iptek dan kelas menengah, kemudian segala sesuatu dimesinkan. Revolusi industri merupakan katalisator bangkitnya kelas menengah.

Kesusastraan Inggris sebetulnya hanya England. Akan tetapi, yang dimaksud adalah seluruh negara bagian karena karya sastra yang ditulis menggunakan bahasa Inggris (meskipun negara-negara bagian itu memiuliki bahasa sendiri. Pengarang realisme di Inggris, misalnya George Eliot, Trollope, Thakeray dan Charles Dickens. Di Amerika Serikat perkembangan realisme di dalam novel didahului oleh Mark Twain, William Dean Howells, dan Henry James.

Realisme selalu memasukkan moral, dengan demikian seni bagi realisme adalah sarana untuk mengkritik dan menyampaikan pesan moral. Inilah yang kemudian ditolak oleh gerakan seni untuk seni karena puisi bukan merupakan sarana pesan. Genre penting dalam realisme adalah novel. Novel-novel sejarah dapat dimasukkan ke dalam realisme

Tokoh/sastrawan realisme tulen: Balzac (Pr), Flaubert (Pr.), Dostoevsky (Rusia), Tolstoy (Rusia), Dickens (Ing.), Ibsen (Norwegia. Semua novelis, kecuai ibsen (drama). Realisme menginginkan representasi dari realitas (menggambarkan realitas/kenyataan dalam kehidupan sehari-hari. Oleh sebab itu, realisme membahas kehidupan kontemporer (yang sedang berlangsung) dan tingkah laku manusia temporal (yang berpikir, bertindak, dan berperilaku dalam dunia sekarang ini). Untuk menggambarkan apa adanya, realisme memakai metode induktif dan bersifat observatif agar realitas yang digambarkan benar-benar objektif. Dengan sendirinya, kepribadian penulisnya ditekan sedemikian rupa.

Pada abad ke-19 muncul juga gerakan sosialisme. gerakan ini mengajarkan kolektivisme dan kebersamaan. Karl Marx mengumumkan manifestonya dan dari manifesto ini lahirlah komunisme. Kepercayaan terhadap agama juga merosot sebagai akibat perkembangan iptek. Karena agama tidak lagi mndominasi kehidupan manusia, maka dicari formulasi baru terhadap kepercayaan agama. Hegel (Jerman) adalah orang yang melakukan pekerjaan itu.

Suatu perkembangan lebih lanjut dari realisme adalah aliran naturalisme, yang lahir dan berkembang di Perancis. Apabila realisme merupakan ucapan artistik suatu sikap terhadap kenyataan yang biasa pada berbagai individu di zaman apapun, maka naturalisme merpakan ucapan artistik di abad ke-19. Pengarang naturalisme, Emile Zola, mengatakan bahwa pengarang harus meniru ilmuwan dengan mengamati kenyataan tanpa menyelidki sebab-sebabnya mengapa kenyataan itu demikian. Pengarang naturalisme Perancis yang terkenal adalah Flaubert, Alphons Daudet, Maupassant, Zola, dan de Goncourt.

Realisme sering dibingungkan dengan naturalisme. Realisme menggambarkan kebobrokan kelas menengah, sementara naturalisme menggambarkan kebobrokan kelas gembel karena ambisi untuk dapat naik ke kelas yang lebih tinggi dengan mengorbankan apapun demi ambisinya tercapai—naturalisme tidak menghadirkan konflik-konflik yag berkaitan dengan moral. Dalam ilmu ada sosiologi (membahas kelompok-kelompok masyarakat) dan sosiatri (membahas kelompok masyarakat kelas rendah/gembel). Jadi, realisme berkaitan dengan sosiologidan naturalisme dengan sosiatri. Realisme sosial di Rusia merupakan kelanjutan realisme. Di Indonesia dikembangkan realisme sosialis oleh Lekra.

Suatu perkembangan realisme lain adalah Neue Sachlichkeit—dalam bahasa Inggris dikenal dengan istilah The New Objectivity– yang muncul pada awal abad ke-20. Aliran ini, sesuai dengan realisme, hendak mencapai gambaran kenyataan secara objektif, namun dengan banyak menghadirkan kritik sosial dan poltik.

4. 3 Relisme-Sosial

Realisme-sosialis adalah pempraktikan sosialisme di bidang kreasi sastra. Istilah ini muncul untuk memenangkan sosialisme di Uni Soviet. Tokoh utama yang biasa mendapatkan penghargaan sebagai pelopornya adalah pujangga besar Soviet maxim Gorki dengan karya utamanya Ibunda.

Realisme-sosialis sebagai metode sosialis menempatkan realitas sebagai bahan-bahan global semata untuk menyempurnakan pemikiran dialektika. Bagi realisme-soaialis setiap realitas, setiap fakta, hanya sebagian dari kebenaran, bukan kebenaran itu sendiri.

Realisme-sosialis itu sendiri bukan hanya penamaan satu metode di bidang sastra, tapi lebih tepat dikatakan suatu hubungan filsafat, metode penggarapan dengan estetikanya sendiri. Selain itu penamaan ini juga terdapar dalam politik estetik di bidang sastra yang sekaligus mencakupkesadaran adanya front, adanya perjuangan, adanya kawan-kawan sebarisan dan lawan-lawan di seberang garis, adanya militansi, adanya orang-orang yang mencoba menghindar dari front.

Istilah realisme-sosialis mencakup pula persoalan taktik dan strategi, sekalipun di bidang sastra, hanya ini mungkin mengambil manifestasi dalam pengemukakan plot, gaya bahasa, perbendaharaan kata, pilihan kata, metode penyampaian, kontras, dan sebagainya yang sifatnya sama sekali telah akademik.

Pada mulanya, juga di Indonesia, realisme-sosialis hanya merupakan semboyan dengan penulisan-penulisan yang bertaraf semboyan pula. Tulisan-tulisan semacam ini dapatditemukan di berbagai lembaran kebudayaan tahun limapuluhan. Sastra sosialis, sastra realisme-sosialis mulai hidup dan subur di Indonesia adalah sebagai matarantari dari watak sosial abad 20, watak-watak kebangunan rakyat di seluruh dunia dengan kebutuhannya akan nilai-nilai moral, nilai sosial, dan nilai kultural serta politik yang lebih banyak, dan yang selama ini hanya dikuasai oleh kelas borjuis, kelas beruntung di seluruh dunia.

Watak realisme-sastra sejalan dengan keradaannya dalam bidang sastra yang melingkupi adanya front perjuangan, tak boleh tidak dia punya watak yang jelas. Satu, militansi sebagai ciri tak kenal kompromi dengan lawan. Dua, karena segaris dengan perjuangan politik sosialis, maka dia terus-menerus melakukan effensi atas musuh-musuhnya dan pembangunan yang cepat di kalangan barisan sendiri. ‘If the enemy does not surrender,” kata Gorki dalam salah satu artikelnya, “he must be destroyed.” Atau yang sebaliknya yakni dalam artikelnya yang lain: “The poeple must know their history.” Dalam dua artikelnya ini Gorki untuk kesekian kalinya membela humanisme-proletar, dengan menudingkan telunjuk pada urgensinya pengusahaan penghapusan pembagian manusia atas kelas-kelas, melenyapkan setiap kemungkinan munculnya minoritas yang mengeksploitasi tenaga mayoritas yang produktif dan kreatif. Kemudian yang terpenting adalah menciptkan dunia baru, dunia yang dibangun di atas landasan keadilan yang merata.

Peringatan bahwa setiap kapitalisme adalah musuh dan musuh kemanusiaan selalu nampak sebagai watak realisme-sosialis. Kapitalisme itu memang hanya terdiri atas beberapa gelintir orang, tapi dengan kapitalismenya, dengan sistem pengaturan sosialnya, praktis mereka yang memiliki seluruh angkatan perang dan kepolisian, dan merekalah yang memberikan komando tertinggi.

Pada segi lain watak ini nampak pada semangat yang diberikannya kepada rakyat. Pengungkapan pedagogik dan sugestif, ajakan dan dorongan untuk lebih tegap dan perwira memenangkan keadilan merata untuk maju, untuk melawan dan menentang penindasan bukan saja berdasarkan emosi atau sentimen tapi juga berdasarkan ilmu dan pengetahuan, terutama memberanikan rakyat untuk melakukan orientasi terhadap sejarahnya sendiri.

BAB 2

CIRI-CIRI REALISME-SOSIALIS DALAM NOVEL SEKALI PERISTIWA DI BANTEN SELATAN KARYA PRAMOEDYA ANANTA TOER

1 Pramoedya Ananta Toer dan Karyanya

Pramoedya Ananta Toer lahir pada tahun 1925 di Blora, Jawa Tengah, Indonesia. Hamper separuh hidupnya dihabiskan dalam penjara – sebuah wajah semesta yang paling purba bagi manusia-manusia bermartabat: 3 tahun dalam penjara Kolonial; 1 tahun di masa Orde Lama; dan 14 tahun yang melelahkan di masa Orde Baru (13 Oktober 1965-Juli 1969); pulau Nusa-Kambangan pada Juli 1969-16 Agustus 1969; pulai Buru pada Agustus 1969-12 November 1979; Magelang pada November-Desember 1979 tanpa proses pengadilan.

Pada tanggal 21 Desember 1979 Pramoedya Ananta Toer mendapat surat pembebasan secara hukum tidak bersalah dan tidak terlibat dalam G30S PKI tetapi masih dikenakan tahanan rumah, tahanan kota, tahanan Negara, sampai tahun 1999 dan wajib lapor ke Kodim Jakarta Timur satu kali seminggu selama kurang lebih 2 tahun. Beberapa karyanya lahir dari tempat purba ini, di antaranya Tetralogi Buru (Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca).

Penjara tak membuatnya berhenti sejengkalpun untuk menulis.baginya menulis adalah tugas pribadi dan nasional. Ia konsekuen terhadap semua akibat yang ia peroleg. Berkali-kali karyanya dilarang dan dibakar.

Dari tangannya yang dingin telah lahir lebih dari 50 karya dan diterjemahkan ke dalam lebih dari 42 bahasa asing. Karena kiprahnya di gelanggang sastra dan kebudayaan, Pramoedya Ananta Toer dianugerahi pelbagai penghargaan internasional, di antaranya: The PEN Freedom-to-write Award pada 1988, Ramon Magsasay Award pada 1995, Fukuoka Cultur Grand Price, Jepang pada tahun 2000, pada tahun 2003 mendapatkan penghargaan The Norwegian Authours Union dan tahun 204 Pablo Neruda dari Presiden Republik Chile Senor Ricardo Lagor Escobar. Sampai akhir hidupnya, ia adalah satu-satunya wakil Indonesia yang namanya berkali-kali masuk dalam dafrat Kandidat Pemenang Nobel Sastra.

2 Novel Sekali Peristiwa di Banten Selatan karya Pramoedya Ananta Toer

Novel ini ditulis Pramoedya Ananta Toer ketika penindasan menggulung orang-orang kecil yang tidak berdaya. Bukan saja kaum Kolonial, tapi juga kaum pemberontak yang dalam novel ini dimaksudkan kepada Darul Islam (DI). Sebagaimana pengakuan Pramoedya, novel ini merupakan hasil “reportase” singkat hasil kunjungannya beberapa waktu lamanya pada akhir 1957 di wilayah Banten Selatan yang subur tetapi rentan dengan penjarahan dan pembunuhan. Tanah yang sebur tetapi masyarakatnya miskin. Mereka dipaksa hidup dalam tindihan rasa takut yang semakin membuat mereka miskin.

Lewat novel ini, Pram ingin menyumbangkan pikirannya untuk bangsa:

“Dengan tulisan ini aku ingin menyumbangkan sedikit pikiran dengan medium dan caraku sendiri, yang tentu saja dengan harapan besar, semoga sumbangsih ini sedikit atau banyak punya arti yang konstruktif.”

Beberapa orang tokoh dalam cerita ini diambil dari orang-orang yang pernah Pram temui di daerah Banten Selatan, orang-orang yang mengenal daerah ini, yang ikut dengan sukaduka perkembangan daerahnya, dan sedikit banyak pernah menceritakan kepadanya tentang hal-hal yang pernah mereka alami den mereka dambakan. Seorang di antaranya adalah Lurah, seorng lagi bekas mandor yang ikut kerja rodi membuka jalan antara Pelabuhan Ratu dan tambang mas Cikotok, beberapa buruh tambang, dan petani yang pada waktu itu sedang kerjabakti memperbaiki jalan yang tertimpa tebing longsor.

Lewat tokoh Ranta, Sang Lurah, Pram menitiskan sebintik rasa kuat untuk meneguhkan rasa percaya diri sebuah masyarakat. Sebuah keteguhan, keberanian, dan keyakinan untuk melawan penindasan, kemiskinan, dan kemalangan hidup dengan rasa solider masyarakat (rakyat). Rasa solider itulah yang diistilahkan sebagai gotong-royong.

Penindasan yang dialami oleh semua rakyat bahkan rakyat paling miskin terjadi di daerah Banten Selatan salah satunya dikarenakan oleh adanya pemberontakan yang dilakukan oleh DI. Namun, semua penderitaan tersebut dapat dikalahkan melalui perjuangan bersama yang dilakukan oleh seluruh masyarakat dengan keyakinan dan kebersamaan yang kuat. Gotong royong itulah yang pada akhirnya menghantarkan masyarakat pada kehidupan yang kondusif lagi optimis.

3 Ciri-ciri Aliran Realisme-Sosialis dalam Novel Sekali Peristiwa di Banten Selatan karya Pramoedya Ananta Toer

3. 1 Berusaha menggambarkan hidup dengan sejujurnya tanpa prasangka dan tanpa upaya untuk memperindahnya (representasi sebuah realitas) dengan metode induktif dan bersifat observatif sehingga realitas yang digambarkan bersifat objektif.

“Sebagaimana pengakuan Pramoedya, novel ini merupakan hasil “reportase” singkat di wilayah Banten Selatan yang subur tapi rentan dengan penjarahan dan pembunuhan” (Hal. Pengantar)

Demikian paragraf kedua dari pengantar yang ditulis oleh Lentera Dipantara sebagai penerbit novel karya Pramoedya Ananta Toer yang berjudul Sekali Peristiwa di Banten Selatan menerangkan bahwa karya sastra bergenre novel ini merupakan sebuah hasil reportase atau dokumentasi dari kunjungan Pram ke tanah Banten Selatan pada tahun 1957.

Upaya penggabaran hidup yang jujur tanpa upaya untuk memperindahkannya, di antaranya terdapat dalam kepolosan dialog dua tokoh pembawa singkong yang tengah beristirahat sambil mengingat kolonialisme. Metode induktif tampak dari kalimat terakhir yang menutup pernyataan dari tokoh pemikul singkong serta isi pernyataan yang bersifat observatif terhadap orang-orang Belanda (penjajah) yang secara fisik memiliki ketampanan yang dikagumi tetapi sifatnya rakus dan tamak akan kekuasan terhadap kekayaan nusantara, membuat objektivitas tampak begitu nyata, bukan berdasar pada prasangka dan emosi sebagai pribumi semata.

“Yang Kedua:

I-ya-ya, orang begitu bagus-bagus, kulitnya putih, hidungnya mancung, tapi tamaknya….. Ngudubilah setan!

Yang Pertama:

Ngudubilah setan!” (Hal. 13)

Gambaran nyata lainnya adalah mengenai kondisi pasar yang diungkapkan dalam dua kalimat pendek oleh tokoh Ireng, istri Ranta.

“Pasar kacau, Pak. Diobrak-abrik DI.” (Hal. 15)

3. 2 Bertendensi, banyak memuat kritik sosial dan politik sebab seni bagi realisme adalah sarana untuk menyampaikan kritik dan pesan moral atau seni yang memikul tugas sosial.

Novel ini merupakan contoh konkret bagaimana karya sastra sebagai seni dianggap sebagai seni yang memikul tugas atau lebih dikenal dengan istilah applied art. Hal ini Pramoedya ungkapkan secara lugas dalam paragraf pertama pengantar yang ditulisnya untuk novel ini, yaitu:

“Dengan tulisan ini aku ingin menyumbangkan sedikit pikiran dengan medium dan caraku sendiri, yang tentu saja dengan harapan besar, semoga sumbangsih ini sedikit atau banyak punya arti yang konstruktif.” (Hal. Pengantar)

Selain daripada itu, banyak sekali bagian novel yang secara implisit menjadi media pengungkapan pesan yang hendak disampaikan oleh penulis yang telah meniatkan diri untuk memberikan sumbangsihnya dalam bentuk dan caranya sendiri ini, yaitu melalui dialog pidato tokoh Ranta sebagai Pak Lurah:

“Sekarang Pak Lurah berdiri, mengangkat tangannya tinggi-tinggi dan mulai pidato:

Saudara-saudara, dengar! Kita ini bukan binatangbuas. Kalau binatang buas hidup sendiri-sendiri. Kalau dia menemui sesame mahluk, ini berarti, yang ditemuinya bakal jadi kurbannya. Karena itu dia terpaksa hidup sendiri-sendiri. Tidak mau bergaul. Mereka cuma hidup dari pembunuhan. Pada suatu kali pun dia akan dibunuh. Tapi kita bukan binatang buas. Kita ini manusia. Kita tak perlu hidup dari pembunuhan. Tetapi lebih baik lagikalau kita hidup rukun, gotong-royong, kerjasama, bersatu, bersaudara. Dulu kita tak berani berkumpul-kumpul semacam ini, karena ganasnya gerombolan. Lihat, sesudah kita bersatu, gerombolan dapat kita musnahkan. Jadi………” (Hal. 119)

Juga dengan sorak-sorai kerumunan masyarakat yang telah berhasil dalam perjuangan melawan pemberontakan:

“Kita harus kerja-kerja buat anak, buat seluruh keturunan! Ayo berdiri semua…….

Semua berdiri sambil berseri-seri

Ranta meneruskan dengan mengayun-ayunkan tinjunya:

Mari kita teriakkan bersama-sama: Kita harus kerja……..

Kita harus kerja………

Kerja buat anak………

Kerja buat anak………

Buat seluruh keturunan……….

Buat seluruh keturunan……….

Hore………

Hore……… “ (Hal. 125)

3. 3 Membahas kehidupan kontemporer dan tingkah laku manusia yang temporal.

Kehidupan yang tertindas lagi miskin yang digambarkan dalam novel ini ditambahi pula oleh ulah dan tingkah laku tokoh Juragan Musa yang tak puas memperkaya diri, dengan menyuruh orang lain (orang miskin) untuk mencuri. Ranta, dialah tokoh yang dipaksa oleh Juragan Musa untuk mencuri bibit karet. Hal ini digambarkan sangat nyata dalam dialog tokoh Juragan Musa dan Ranta, juga kondisi yang tengah terjadi berikut dengan pola pikir orang ketika itu yang tergambar dalam dialog antara suami-istri, Ranta dan Ireng. Yaitu:

“Pergi juga, Pak? Nyolong bibit karet?

Dengar, Reng. Memang aku sering nyolong. Tapi bukan karena kemauanku aku jadi maling.

Kalau ditangkap, Pak?

….. tentu saja tak ada seorang juga mau jadi maling, Ireng…..

Kalau dipukuli orang banyak, Pak, dipukuli penjaga onderneming…..

Jangan doakan, Ireng, jangan.

Pak! Pak!

Sekarang ini mereka yang tentukan hidup kita, Ireng. Mereka!

……

Mereka! Yang datang pada kita hanya untuk menyuruh kita jadi maling. Mereka! Yang hidup memisah dari kita, seperti binatang buas di rima. Mereka, yang dalam kepalnya Cuma ada pikiran mau mangsa sesamanya. Mereka! Mereka!” (Hal. 20-21)

Bukan hanya dialog di awal kepergian tokoh Ranta yang hendak mencuri, tetapi juga dialog ketika Ranta usai terpaksa mencuri, dalam dialognya Ranta menggambarkan keadaan pada zaman tersebut di mana orang-orang DI tak berbeda dengan binatang buas.

“Kenapa, Pak? Kenapa? Mana pikulan? Mana golok?

Hilang! Semua. Dirampas binatang-binatang buas itu juga.Mereka!

Aku tak takut dibui. Mereka suruh aku curi bibit karet onderneming. Aku bawakan sampai dua kali balik. Mereka bilang. ‘Cukup, pulang kau1’ aku Tanya, ‘mana upahku?’ mereka beri aku upah pukulan rotan, merampas pikulan dan golokku. Tahu apa mereka bilang? ‘Jangan berani-berani ke sini curi bibit karetku, ya?’

Ireng merintih

Cuma orang semacam Juragan Musa bisa berbuat begitu!” (Hal. 25)

Hal edan yang terjadi pada saat itu adalah orang miskin dipaksa mencuri untuk Juragan Musa, lalu ketika selesai mencuri dan hasil curianpun sudah berada di tangan Juragan Musa maka dipukuli dan disiksalah pencuri suruhannya tadi dengan alasan ketahuan mencuri bibit karet onderneming, padahal karena ia terlalu tamak dan tak ingin memberi upah pada pencuri suruhannya tersebut.

Kondisi kehidupan masyarakat yang pada masa itu identik dengan menjadi maling juga Nampak dari ujaran-ujaran tokoh Ranta yang baru saja dipaksa mencuri lagi disiksa oleh Juragan Musa, yaitu:

“Biarlah. Membunuh dia tak ada gunanya. Kita sudah dibuatnya jadi maling. Tapi mereka juga dibuat jadi maling.

Kekayaannya mereka peroleh dari maling. Ireng, kau ingat waktu anak kita yang pertama sakit keras, pinjam hutang pada mereka? Anak kita meninggal. Panen seluruhnya mereka ambil. Kita kelaparan, terpaksa jual tanah. Mereka juga ambil tanah kita. Berapa harganya? Tak cukup buat modal gadang di pasar! Ludas! Tandas! Kuras!” (Hal. 26)

3. 4 Berisikan perlawanan terhadap segala sesuatu yang berbau “humanisme-borjuis” untuk memenangkan “humanisme-proletar” dan berupaya untuk menghapus klas-klas serta pelapisan atas manusia, serta melenyapkan kemungkinan munculnya minoritas yang mengeksploitasi tenaga mayoritas yang produktif.

Kondisi adanya dominasi kekuasaan yang mengambil setting tempat di Banten Selatan ini salah satunya ditunjukkan oleh dialog tokoh pemikul singkong yang tengah beristirahat sambil merokok, yaitu:

“Huh! Ingat kau, jalan ini dulu kita yang buat. Dulu, ramai-ramai, rodi. Apa sekarang?

Lewat jalan yang kita buat sendiri kita bayar pajak pada onderneming. Dua pintu jalan, dua kali pajak. Kalau kau coba-coba beli gerobak, berapa pajak mesti dibayar, tiap kali dua pintu jalan onderneming itu?!” (Hal. 13)

Kondisi tersebut juga apat dilihat dari dialog Ireng dan suaminya.

“Ireng segera menyambar:

Kalau dia mau, siapa di antara kita bisa lawan? Dia tak pakai tenaga badannya. Dia punya uang. Kita tak bisa lawan uangnya. Dia punya kawan orang-orang besar. Kita Cuma punya kawan orang kecil-kecil.

Ranta memutuskan kata-kata isterinya:

Kita sudah bosan putus asa. Kita takkan putus asa lagi. Kita akan perbaiki keadaan kita. Bukan, Ireng?” (Hal. 31)

Upaya untuk menghapus klas-klas serta pelapisan atas manusia, serta melenyapkan kemungkinan munculnya minoritas yang mengeksploitasi tenaga mayoritas juga tercermin dari dialog tokoh Komandan usai berjuang melawan pemberontakan. Komandan berterimakasih pada Ranta sebagai Lurah yang telah mencetuskan semangat gotong-royong yang berimbas pada stabilitas keamanan masyarakat setempat dari pemberontakan DI.

“Begini, Pak Lurah, kamilah yang seharusnya berterimakasih. Baru sekali ini sejak jadi Komandan di sini kami dapat menghancurkan gerombolan dengan begitu baik, dan sudah dua kali pula. Malah menangkap biangkeladinya. Tak pernah sebelumnya ini terimpi-impi oleh kami.

Ranta mendesak terus, tapi sekarang sambil melepas tangan Komandan:

Itu memang kewajiban Bapak, tapi hasilnya buat kami.

Hahah, sebenarnya kita semua wajib berterimakasih pada semangat gotongroyong, pada semangat persatuan …………….. “(Hal. 101)

3. 5 Memiliki watak yang jelas, di antaranya yaitu militansi sebagai ciri tak kenal kompromi dengan lawan.

Watak yang tegas dan tak kenal kompromi diperlihatkan oleh tokoh Nyonya, istri drai Juragan Musa yang meminta cerai pada suaminya tersebut. Sekalipun tidak jadi bercerai, tetapi pada akhirnya mereka tidak bersama lagi, sebab juragan Musa terbukti sebagai Residen DI yang kemudian ditangkap dan dihukum sebagai pemberontak.

“Jadi kau mau khianati aku?

Jadi kau sudah lupa, orang tuaku dihabisi DI? Keluargaku lari tungganglanggang karena DI. Sekarng aku baru tahu engkau sendiri ini pembesar DI!

Juragan Musa berdiri, bertolak pinggang dan meradang juga

Kau punya pura-pura alim! Kau yang pura-pura saleh! Kau murtad pada takdir Tuhan. Tuhan sudah pilih aku jadi hambaNya untuk menegakkan hukumNya.

Penipu!

Jadi kau minta direjam seperti yang lain-lain?

Tempat kita terpencil. Engkau pembesar DI. Engkau suamiku. Tak ada yang mengahalangi kau merejam aku. Rejamlah.

Tangan Juragan Musa melayang. Nyonya jatuh terduduk. Dan sewaktu duduk nyonya menyeka mulutnya yang berdarah sambil berkata muak.” (Hal. 54-55)

3. 6 Berupaya mempercepat pembangunan kalangan sendiri dengan membela humanisme-proletar dan berupaya untuk menciptakan dunia baru yang dibangun di atas landasan keadilan yang merata.

Ciri lain dari aliran realism-sosialis di antarnya adalah adanya muatan yang berupaya mempercepat pembangunan kalangan sendiri dan menciptakan dunia yang adil. Hal ini tampak dari deskripsi seorang tokoh mengenai kondisi masyarakat saat itu yang lebih baik dari pada sebelumnya. Yaitu ketika Ranta telah menjadi seorang Lurah.

“Ah, Pak Lurah, tanpa kutanyai, orang-orang sudah bilang: keadaan sekarang sudah mulai baik benar.” (Hal. 75)

“Begini, Pak Lurah. Kami mendapat laporan, gerombolan Oneng sudah ada di sekitar daerah kita ini. Pak Lurah sendiri tahu, kekuatan tentara di sini tidak besar. Maksudku, barangkali Pak Lurah bisa kasih bantuan mempertahankan keamanan daerah ini, tentara bersama rakyat. Dan seboleh-boleh jangan sampai ada jatuh korban.

…….

Dengan sungguh-sungguh Pak Lurah menyarankan:

Kita persatukan rakyat, kita lawan musuh bersama-sama. Kita pergunakan bambo untuk ranjau-ranjau. Kita pergunakan tong-tong di tiap rumah untuk menyampaikan berita dan mengerahkan rakyat untuk melawan musuh bersama.

Komandan menengahi:

Maksudmu gotong-royong?

Tentu, Pak. Cobalah pikir. Pak, kami di sisni hanya tahu tanah dan pacul. Mereka punya senjata dan gerombolan. Kalau kita tidak mau bersatu, tidak mau gotong-royong, apa yang kami bisa perbuat dengan Cuma tahu tanah tahu pacul ini!

……

Begitulah, Pak. Kita bersama-sama bergotong-royong membuat pertahanan, jebakan, ranjau-ranjau. Jalanan di sini tidak banyak. ” (Hal. 77-78)

Percepatan pembangunan kalangan sendiri dengan membela humanisme-proletar ini juga nampak dalam penggambaran situasi setelah usai masyarakat berjuang melawan pemberontakan.

“Pak Lurah tersenyum puas. Berkata:

Jadi sudah datang semua. Bagus. Nah, saudara-saudara, kalian semua ketua Rukun Tetangga. Rukun tetangga di sini didirikan buat bantu pemerintahan desa, dan pemerintahan desa dipulihkan buat bantu saudara semua. Kita Cuma tahu bantu-membantu, gotong-royong, gugurgunung, kerjabakti, bersaudara, satu dengan yang lain, satu dengan semua, semua yang satu. Semua itu saudara-saudara sudah hafal. Nah, sekarang ada soal penting. Dengarkan baik-baik: Gerombolan akan datang menyerang lagi. Tentara yang ditempatkan di desa terpencil ini cuma sedikit. Kita semua harus ikut melawan.” (Hal. 85)

…….

“Apa salahnya? Mengapa mesti apa salahnya? Kita semua tahu, kita mesti melawan. Kalau kita tidak melawan seperti selama ini, kita dibunuhi, dibakari, seperti kucing! Melawan atau tidak, mereka mau binasakan kita. Karena itu kita mesti melawan! Kalau kita susun perlawanan kita baik-baik, kita pasti menang. Nah, siapa keberatan?

Seorang tua, yang sudah berjenggot dan berkumis putih, menyambut sambil tertawa:

Memang. Kita tak bisa mengandalkan diri pada tentara dan OKD saja. Kita sendiri mesti belajar mempertahankan keselamatan kita sendiri. Bukan saja dari keganasan gerombolan, juga dari kemiskinan dan bencana alam.” (Hal. 85)

“Dan orang tua itu meneruskan:

Kalau kita tak bisa seorang diri pertahankan keselamatan kita, nah, kita kerja beramai-ramai. Coba perhatikan, turuntemurun kita hidup morat-marit. Kenapa? Karena tidak mengerti, kalau kita bersatu, bersama-sama kerja, bersama-sama bela diri, sebenarnya kekuatan kiata jauh lebih besar. Semua saja bisa kita kerjakan. Jangankan waduk buat seluruh desa kita, biar penjajah bisa kita usir!” (Hal. 86)

3. 7 Menampakkan adanya peringatan bahwa kapitalisme adalah musuh manusia dan kemanusiaan serta mengupayakan rakyat untuk berani melakukan orientasi terhadap sejarahnya sendiri.

Peringatan mengenai kapitalisme sebagai musuh tampak menonjol sebagai ciri dari relisme-sosialis. Oleh karena sosialisme sangat bertolakbelakang dengan paham kapitalisme maka penentangan terhadap kapitalisme menjadi salah satu ciri dominan dalam realisme-sosialis. Kapitalisme yang terjadi digambarkan oleh deskripsi tokoh yang memperlihatkan situasi dan kondisi yang kacau di wilayah Banten Selatan tersebut. Salah satu gambaran tersebut adalah cerita yang diungkapkan oleh Komandan khususnya mengenai Juragan Musa yang cukup kapitalis.

“Sudah lama daerah sini kacau. Gerombolan terus-menerus menggedor, membakari rumah. Sampai keluarga yang paling miskin tak luput dari kebiadabannya. Tapi aneh, Juragan Musa yang kaya ini tidak pernah diganggu olehnya. Mengapa? Nah, kami curiga.

…..

Juragan benar. Tetapi ada bukti-bukti yang membuat kami curiga. Juragan punya hubungan akrab dengan gerombolan pengacau.

……

Tak perlu kuwatir. Kekuwatiran hanya bagian pendurhaka.

…..

Jadi bagaimana sekarang, Pak Residen? Mengaku?

……

Sudah tiga bukti menyatakan, kau Residen DI. Pertama-tama isterimu sendiri menyebut kau pembesar DI. Kedua Pak Lurah sini, yang sekarang baru ketahuan orang DI juga, dan ketiga surat-surat dalam tas Juragan sendiri.” (Hal. 56)

“Dengar, Juragan Musa. Daerah sini daerah paling kacau. Sudah kuusahakan bermusyawarah dengan orang-orang terkemuka di sini dan Pak Lurah, tapi apa buktinya? Bukti-buktinya: Juragan dan Pak Lurah sendiri pengkhianat rakyatnya sendiri. Juragan Musa berjanji mau bantu kami. Sebagai orang beragama, tidak layak memungkiri janji. Tidak layak berkhianat! Islam tidak mengajarkan dan mewajibkan pengkhianatan pada rakayat dan sesamanya. Juragan Musa dan Pak Lurah ikut bertanggungjawab atas peristiwa-peristiwa pembunuhan, perampokan dan penganiayaan di daerah sini. Dengar…”(Hal. 66)

Adanya kapitalisme yang menyengsarakan rakyat juga tercermin dalam monolog tokoh Nyonya, istri dari Juragan Musa, Sang Kapitalis dalam Novel ini.

“Satu pendurhaka dapat hancurkan seluruh kebahagiaan tiap orang, seluruh bangsa. Banar! Tapi keselamatan tiap orang, seluruh bangsa, cuma dapat dilaksanakan oleh semua orang. Pelaksanaan ini mungkin, kalau ada persatuan, kerukunan, persaudaraan. Hati-hatilah! Hati-hatilah! Satu orang bisa hancurkan kita semua. Tapi kesejahteraan kita harus diciptakan oleh semua kita bersama-sama. Ya, itu gotongroyong, kan?” (Hal 108)

Juga dengan dialog Komandan yang tengah bertukar pengalaman seraya mengupayakan masyarakat untuk berani melakukan orientasi terhadap sejarahnya sendiri.

“Komandan itu menegakkan badannya dan bertanya:

Dari dulu aku bilang, barangkali kau sendiri pernah dengar, kita semua mesti bisa kerjasama. Kerjasama dalam segala hal: mengamankan daerah sendiri, merawat daerah sendiri, memakmurkan daerah sendiri, dan juga, menjaga ketertiban dan keselamatan bersama. Dengar! Dari dahulu kita hidup kocarkacir, melarat, dan miskin. Mengapa? Karena orang semuanya ini tidak rela kerjasama. Karena itu juga kalian dulu tidak punya sekolah untuk anak-anak kalian. Tidak punya jalanan yang baik. Baru berapa bulan kita mau kerjasama? Lihat sendiri, sudah begitu banyak kita dapat perbuat.” (Hal 115)

3. 8 Menampakkan adanya semangat yang diberikan kepada masyarakat berupa: ungkapan pedagogis dan sugestif, ajakan dan dorongan untuk tetap tegap melawan penindasan demi terciptanya keadilan merata bukan sekadar berdasarkan emosi tetapi juga berdasarkan ilmu dan pengetahuan.

Ungkapan pedagogis dan sugestif, dan dorongan untuk tetap tegap melawan penindasan demi terciptanya keadilan merata sebagai penyemangat bagi masyarakat terlihat dalam dialog tokoh-tokohnya, seperti Komandan yang memberikan keparcayaan terhadap Ranta untuk menjadi Lurah sementara sebab Lurah sebelumnya ternyata adalah seorang pengkhianat yang terbongkar melalui jasa Ranta.

“Aku percaya padamu, Ranta. Mulai hari ini kau jadi lurah sini. Kau harus ikut jaga keamanan dengan kami. Sudah jangan bantah.” (Hal 73)

Juga dalam percakapan antara Rodjali dengan Ranta ketika membahas mengenai pemberontakan, persatuan dan kebenaran.

“Nasib kita akan lebih buruk kalau mereka membalas dendam.

Sambil bangkit dari kursi Ranta membantah:

Tidak, kalau kita bersatu.

Biar bersatu, mereka punya senjata.

Tidak, kita bersatu dan juga melawan, bahkan menyerang. Ah, Djali, kau berpikir secara dulu juga seperti yang lain-lain. Begini Djali, kalau ada persatuan, semua bisa kita kerjakan, jangankan rumah, gunung dan laut bisa kita pindahkan.

Sejenak Rodjali berseri-seri, kemudian bertanya:

Dan kemiskinan kita?

Itu juga mudah kita lawan. Persatuan saja modalnya. Pertama-tama kita mesti jadi sahabat dan saudara satu dengan yang lain. Kau ingat saluran air sawah yang dangkal dan ditumbuhi semak-semak sejak zaman Jepang dulu? Nah, kalau ada persatuan, kita akan gali beramai-ramai, kemudian sawah kita akan makmur lagi.

Kemudian dengan irama mendongeng Ranta bercerita:

Kalau kita semua tidak mau bersatu, kita semua akan berkelahi terus-menerus satu dengan yang lain. Apa akhirnya? Akhirnya barangsiapa kuat, dia berubah menjadi binatang buas. Tiap hari dia mangsa hidup kita, rejeki kita, anak dan bini kita, kebahagiaan kita, semua-muanya. Binatang-binatang buas ini menarik diri, tidak mau bergaul dengan sesamanya. Mereka keluar dari sarang hanya untuk mencari mangsa. Tapi bila sekali waktu binatang buas ini bertemu dengan binatang buas lainnya, kita semua disuruhnya membantu. Orang-orang lemah yang tidak bisa jadi binatang buas, barang ke mana pergi, dia tetap akan menjadi mangsa. Barang apa dikerjakannya, dia akan tetap jadi mangsa. Kau dengar, Djali?

Abdi dengar, Pak Lurah. Tapi abdi lebih percaya pada kebenaran.

Kau belum banyak makan garam, Djali. Dengar. Aku sudah pernah lihat Palembang, Surabaya, Jakarta, Bandung. Di mana-mana sama saja. Di mana-mana aku selalu dengar: Yang benar juga akhirnya yang menang. Itu benar. Benar sekali. Tapi kapan? Kebenaran tidak datang dari langit, dia mesti diperjuangkan untuk menjadi benar……….” (Hal. 76-77)

Tokoh Ranta yang tengah menenangkan kerisauan akan kemungkinan timbulnya pemberontakan yang tak dapat diterka kapan datangnya secara langsung maupun menjadi media penyemangat bagi masyarakat, juga didasarkan bukan hanya sekadar emosional semata, melainkan pertimbangan yang matang lagi bijak.

“Dengar kalian tak perlu takut. Kalian punya anakbuah. Satu-satunya yang menelamatkan kita semua Cuma persatuan, persaudaraan. Jadi, pulanglah saudara ke tempat masing-masing. Pasang ranjau-ranjau bamboo terpendam di tempat-tempat yang bakal dilewati gerombolan. Panah dan sumpit bagikan pada semua orang, laki, perempuan, tua, muda, semua sebaiknya ikut membantu. Nanti sore aku akan datang ke tempat-tempat saudara, ikut mengatur. Nah, sekarang pulanglah. Jangan pikirkan yang lain-lain, selain menumpas gerombolan. Kalau gerombolan dapat dihalaukan dari tempat ini, baru kita bisa bekerja dan hidup dengan aman.” (Hal 86)

“Siapkan tanaman duren dan kelapa buat kalian waktu kalian masih bayi? Kalian sendiri? Ha-ha! Orangtua, kakek kalian! Kalau semua orang cuma mau menanam buat diri sendiri, bagaimana anak-cucu kita!

Seorang orang tua dalam kelompok itu mengusulkan suaranya:

Saudara-saudara, sebenarnya tidak ada orang yang bertanam buat dirinya sendiri.

Ranta berteriak mengatasi keributan yang timbul:

Benar! Juga kita hidup bukan untuk diri kita, tetapi buat anak-cucu kita!”(Hal 118)

3. 9 Pengarang menguasai realitas kehidupan sosial tanah airnya dan dengan bimbingan humanisme-proletar memperjuangkan kepentingan tanah air dan rakyat.

Isi dari novel ini menunjukkan kepiawaian penulis dalam mereportase sebuah kejadian. Ialah Pram yang menuliskan pengalaman dan penguasaan realitas di Banten selatan pada akhir tahun 1957. Hal ini nampak dari prolog yang disajikan penulis yang berkaitan dengan latar tempat dan waktu. Dialog para tokohnya dalam memperbincangkan realitas yang terjadi sebagai muatan cerita. Alur yang maju-mundur tampak tak berbias dengan kehidupan seorang manusia.

Di samping itu, bukti yang lebih eksplisit yang menerangkan bahwa pengarang novel ini menguasai realitas dan juga mendapat bimbingan dari kaum proletar ada pada pengantar, baik yang ditulis oleh pihak penerbit, maupun Pram sebagai penulis novel. Salah satu kutipan yang memperlihatkan hal tersebut adalah pengantar yang ditulis Pram dalam paragraf kedua, yaitu:

“Beberapa orang tokoh dalam cerita ini diambil dari orang-orang yang pernah Pram temui di daerah Banten Selatan, orang-orang yang mengenal daerah ini, yang ikut dengan sukaduka perkembangan daerahnya, dan sedikit banyak pernah menceritakan kepadanya tentang hal-hal yang pernah mereka alami den mereka dambakan. Seorang di antaranya adalah Lurah, seorng lagi bekas mandor yang ikut kerja rodi membuka jalan antara Pelabuhan Ratu dan tambang mas Cikotok, beberapa buruh tambang, dan petani yang pada waktu itu sedang kerjabakti memperbaiki jalan yang tertimpa tebing longsor.”(Hal. Pengantar)

BAB 3

PENUTUP

Seperti aliran sastra lainnnya, aliran realisme juga berkembang di Indonesia. Melalui karakteristiknya aliran realisme kemudian memiliki fokus yang lebih spesifik lagi. Realisme-sosialis adalah pempraktikan sosialisme di bidang kreasi sastra. Ciri dari realisme-sosialis di antaranya adalah wataknya yang sejalan dengan keradaannya dalam bidang sastra yang melingkupi adanya front perjuangan. Realisme-sosialis di Indonesia berkembang oleh adanya peranan Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat).

Karya sastra Indonesia bergenre novel yang berjudul Sekali Peristiwa di Banten Selatan karya Pramoedya Ananta Toer adalah sebuah wujud di mana aliran realism-sosialis berkembang di negeri Indonesia. Karya-karya Pram yang didaulat sebagai karya (novel) sejarah telah berhasil mendokumentasikan hadirnya realism-sosialis yang lebih lanjut diperlihatkan melalui karakteristik atau ciri-ciri yang terdapat dalam novel tersebut.

Ciri-ciri realisme-sosialis dalam novel Sekali Peristiwa di Banten Selatan secara dominan terlihat dari percakapan para tokohnya. Novel yang sebagian besar memang berisikan dialog ini memberikan suguhan cerita mengenai kondisi tertentu pada sebuah zaman, yaitu pada masa pemberontakan DI di Banten Selatan, dengan tingkah laku manusia yang temporal pada masa itu.

Berbagai ciri lain mengenai realism-sosialis yang berkembang di Indonesia diperlihatkan dari sejumlah catatan dan keterangan yang secara personal diberikan oleh penulis dan dimuat dalam pengantar novel ini.

2 Balasan ke Ciri-ciri Aliran Realisme-Sosialis yang terdapat dalam Novel Sekali Peristiwa di Banten Selatan karya Pramoedya Ananta Toer

  1. dildaar80 mengatakan:

    tulisan yang mengesankan.

  2. art-die mengatakan:

    tulis karya pram yang lain dunk….
    ntar baru qt diskusikan…

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: